Pada setiap seratus tahun Alloh telah menakdirkan orang yang akan memperbaharui agama islam. Dan semenjak dunia ada kita saksikan selalu hadir setiap seratus tahun seseorang memperbaharui masalah agama ini. Dan jika datang di penghujung seratus tahun, maka akan keluar Dajjal. (Lihat Al Hawi oleh Imam Suyuthi, juz II hal. 89, cetakan Maktabah as-Salam, tahun 1984).
Banyak Orang Melupakan Dajjal Dan Tidak Menyebut-Nyebut Tentang Dajjal
Nabi saw. Bersabda, “Dajjal tidak akan keluar kecuali saat manusia telah melupakan untuk mengingatnya. Dan sampai tiba saatnya para Imam tidak lagi menyebut-nyebutnya di atas mimbar”.
Inilah kelalian umat Islam yg berlarut-larut, sementara itu suara kebenaran Rasululloh saw. Masih tetap menggaung di telinga kaum muslimin mengingatkan mereka dengan sabdanya, “Antara penciptaan Adam sampai saat terjadinya kiamat ada sebuah fitnah yang lebih besar dari Dajjal” (HR. ahmad dlm musnadnya <6 : 455-456>
Dan dalam Imam Muslim di sebutkan, “Anatara penciptaan Adam sapai saat terjadinya kiamat ada sebuah fitnah yang lebih besar dari Dajjal atau ada urusan yang lebih besar dari Dajjal”.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari ra., Rasululloh saw. bersabda, “Ada tiga hal yang ika ia keluar, maka tidak akan bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelumnya atau ia yang belum merefleksikan keimanannya untuk kebaikan; Dajjal, binatang melata dan terbitnya matahai dari barat”.
Kalau bukan masalah ini kita anggap sebagai masalah yang sangat serius, maka Rasululloh saw. Tidak akan memeberikan suri tauladan kepada kita agar senantiasa erlindung kepada Alloh darinya pada tiap tasyahud akhir dan sesaat sebelum salam dengan sabdanya:
“Ya Alloh hamba berlindung kepadaMu dari adzab kubur dan siksa jahannam dan dari fitnah hidup dan mati serta dari fitnah al-Masih ad-Dajjal”.
Dan telah di riwayatkan oleh Imam Muslim dalam sahihnya dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasululloh saw. Mengajarkan do’a ini sebagaimana Beliau mengajarkan salah satu surat Al-Qur’an.
Imam Muslim Ibnu Hajjaj berkata: telah samapi berita kepada kami bahwa Thawus telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas. Ia berkata kepada anaknya, “Apakah engkau berdoa dengan doa tersebut dalam shalatmu?”. Ia menjawab, “Tidak”. Kemudian ia mengatakan, “Ulangilah shalatmu”. Ini artinya bahwa Thawus memahami mengapa Rasululloh mengulang-ulang dan senantiasa berlindung kepada Alloh dari kejahatan fitnah Dajjal.
Maka, tidak mengherankan jika Imam Ibnu Hamz adz-Dzarifi (Al-Muhalla, Ibnu Hazm, juz 3 hal 271) memandang wajib membaca doa perlindungan ini yang telah di ajarkan nabi setiap setelah selesai dari tasyahud dengan landasan melihat dari dhahir hadits Abu Hurairah ra. Yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya:
“Jika salah seorang dari kalian itu selesai tasyahud maka berlindunglah kalian kepada Alloh dari empat hal dengan mengucapkan; ‘Ya Alloh hamba berlindung kepadaMu dari siksa jahannam dan dari azab kubur dan dari fitnah hidup dan mati serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal’”.
Dan dalam sebuah riwayat di sebutkan:
“Jika seseoran diantara kalian selesai dari tasyahud akhir, maka berlindunglah kepada Alloh dari empat hal; ‘Ya Alloh hamba berlindung kepadaMu dari siksa jahannam dan dari azab kubur dan dari fitnah hidup dan mati serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal’”.

